Submissions

Online Submissions

Already have a Username/Password for ILMU USHULUDDIN?
Go to Login

Need a Username/Password?
Go to Registration

Registration and login are required to submit items online and to check the status of current submissions.

 

Author Guidelines

Pedoman Penulisan

Ilmu Ushuluddin

 

Sejatinya penulisan dalam Ilmu Ushuluddin (IU) menggunakan bahasa Indonesia baik dan benar, sesuai EYD (Ejaan Yang disempurnakan), yakni bahasa telah dibakukan dan dijadikan standar acuan bagi masyarakat Indonesia. Sungguhpun demikian, seturut perjalanan waktu, pembakuan bahasa secara sekali jadi dan selamanya tidak akan pernah dapat dipertahankan, karena pengguna bahasa berkembang, maka otomatis bahasa Indonesia pun akan ikut serta berubah. Tidak ada satu pun di dunia ini terdapat bahasa tidak berubah, dari sisi apapun: kosakata, istilah, makna, struktur, gaya-bahasa dan sebagainya, tidak terkecuali bahasa Indonesia. Terlebih bahasa Indonesia telah mengalami empat hingga lima kali perubahan dalam kurun waktu panjang sejak tahun 1901 (diuraikan di bawah.) Perubahan-perubahan tersebut secara niscaya akan mewujud, sekaligus dibutuhkan, demi melengkapi perkembangan bahasa. Dengan demikian perubahan menjadi keharusan bagi penambahan dan kemajuan bahasa itu sendiri.

Sejarah bahasa Indonesia sedemikian panjang berproses dalam mengalami serta melalui peralihan demi peralihan. Pada awalnya bahasa Indonesia menggunakan Ejaan Van Ophuijsen sejak 1901. Lalu ia diubah oleh Ejaan Soewandi pada 19 Maret 1949. Lima tahun kemudian ejaan terakhir ini pun digugat lewat Kongres Bahasa 1954 demi pembakuan di bidang ejaan, tata-bahasa dan peristilahan. Terkhusus dalam bidang ejaan ditelurkanlah hasil untuk “menyetujui sedapat-dapatnya satu fonem dilambangkan dengan satu huruf.” Tiga tahun berselang pada tahun 1957, setelah draft konsep terumuskan, muncul keinginan dari para penganjur bahasa kebangsaan di Persekutuan Tanah Melayu (kini Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam) menciptakan pembakuan bahasa Melayu. Konskuensinya, diselenggarakanlah kongres di Johor untuk menyatukan ejaan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Seluruh hasil-hasil usaha di atas selanjutnya dikaji ulang pada tahun 1967. Pada akhirnya, setelah serangkaian seminar, diskusi terbatas, dan polemik pro-kontra di banyak media, Presiden Soeharto meresmikan EYD pada 16 Agustus 1972.[1]

Perubahan-perubahan sebagaimana diulas di atas terjadi dengan sangat panjang. Salah satu contoh kecil dalam perubahan lambat ini terdapat dalam perubahan ‘kata-depan’ dan ‘awalan.’ Hal ini dapat disimak, misalnya, dalam buku Bahasaku jilid 2A karangan B.M. Nur dan W.J.S. Poerwadarminta (Amsterdam-Jakarta: W. Versluys NV., 1951), pada pelajaran dengan judul “Mengudap,” saat menuliskan, “Si Topo suka mengudap. Tiap2 hari ia makan diwarung-warung dipinggir jalan.” Atau ungkapan seperti ini, “Terbit liurku melihat kolak. Didjual orang ditepi djalan. Untung teringat nasihat emak. Disitu aku dilarang makan.”[2] Kentara sekali pada tahun 1950an kata ‘tiap2,’ ‘diwarung-warung,’ ‘dipinggir,’ ‘ditepi’ baru berubah tahun 1972 melalui EYD menjadi ‘tiap-tiap,’ ‘di warung-warung,’ ‘di tepi’ dan ‘di situ’; dengan penyempurnaan definitif perihal ‘kata depan.’ Malah pada era 1940an, bahasa pengantar (lisan dan percakapan) di Sekolah Rakyat (SR) di Jawa bukanlah bahasa Indonesia, melainkan kromo inggil. Akibatnya bahasa Indonesia masih merupakan, bukan sekedar dianggap, bahasa asing. Lebih dari itu, masyarakat Jawa merasa minder dan inferior guna berbahasa Indonesia secara penuh, oleh sebab sebab itu mereka berbahasa Indonesia bercampur-aduk dengan bahasa Jawa.[3] Sejarah di atas memerikan perubahan bahasa Indonesia sedemikian panjang.

Seperti dijelaskan di atas, berikut contoh-contoh ringannya, ternyata banyak sekali unsur-unsur perubahan dalam bahasa Indonesia, dan itu berevolusi cukup lama, secara perlahan. Dengan kata lain, pedoman dan rumusan sekali jadi tidak akan dapat bertahan lama, melainkan akan senantiasa berkembang serta berubah. Tentu saja pada masa sekarang pun perubahan serta perkembangan itu tetap berlaku, manakala dibutuhkan. Salah satu di antara perubahan tersebut, sekaligus menjadi unsur pengubah (atau penambah) adalah perkembangan disiplin ilmu terhimpun dalam rumpun kajian-kajian Islam (Islamic studies.) Semakin banyak bermunculan para sarjana dalam kajian Islam, mereka pun mulai memertimbangkan kembali bahasa Indonesia selama ini telah dirumuskan oleh para ahli. Pasalnya, rata-rata para ahli bahasa Indonesia tidak mengerti bahasa Arab, sebagai bahasa utama dalam kajian Islam, padahal nyaris sebagian besar kosakata Indonesia menyerap dari Arab. Efeknya, ketiadaan penguasaan Arab menciptakan kejanggalan demi kejanggalan dalam upaya transliterasi (memindahkan huruf/fonem dalam satu bahasa ke bahasa lain dengan memertahankan bunyi bahasa pertama secara sama dan persis), sehingga bagi para sarjana kajian Islam, rumusan hasil para ahli bahasa Indonesia telah terjadi saat ini tidak memadai lagi sama sekali, maka harus diperbaiki atau diubah sama sekali, dengan penekanan pada persoalan serapan dan transliterasi.

Serapan adalah mengambil kata asing menjadi kata Indonesia. Adapun transliterasi adalah memindahkan kata asing ke kata Indonesia, dengan memertahankan cara pengucapan kata asing tersebut, sehingga sekalipun ditulis dalam kata Indonesia namun cara pembacaannya sesuai dengan keaslian kata asing tersebut. Selama ini banyak kata Indonesia menyerap dari bahasa Arab. Transliterasi Indonesia dari bahasa Arab ini ternyata tidak cukup memadai jika menggunakan satu fonem dilambangkan dengan satu huruf. Oleh sebab itu, hasil keputusan Kongres Bahasa 1954 dengan kesimpulan “menyetujui sedapat-dapatnya satu fonem dilambangkan dengan satu huruf” kini sama sekali tidak dapat dipertahankan lagi. Pada gilirannya, hal ini menghajatkan satu pedoman baru dalam bahasa Indonesia terkait dengan pemindahan fonem (transliterasi) dari Arab ke Indonesia. Apalagi panduan alih-fonem dari Arab ke Indonesia dengan satu fonem dilambangkan dengan satu huruf tersebut menemui sarat problema karena dan inkonsistensi. Contoh-contoh berikut akan menunjukkan inkonsistensi tersebut. Kata-kata bahasa Arab menggunakan fonem /q/ kadang bertahan masih ditulis dengan fonem /q/ kadang berubah menjadi fonem /k/ saat diserap ke dalam bahasa Indonesia. Pada sisi lain fonem /k/ dalam bahasa Indonesia ini banyak sekali menjadi pengganti untuk huruf-huruf Arab menggunakan fonem /q/ dan ‘ayn (ع). Akibatnya, kerumitan-kerumitan pelik tak terhindari, dan bagi para sarjana kajian Islam cara-cara semisal itu, kerumitan itu amatlah memusingkan.

Sebagai misal perihal penggunaan fonem /k/ dalam Indonesia untuk mengganti fonem /q/ dan ‘ayn dalam Arab adalah kata Qur’ān bertahan memakai /q/ saat diserap ke dalam Indonesia, namun untuk kata-kata maqālah, khāliq, makhlūq dan fiqh berubah menjadi makalah, khalik, makhluk, dan fikih. Contoh lainnya adalah fonem ‘ayn dalam bahasa Arab berubah menjadi /k/ atau hilang (luluh), seperti dalam kata du‘ā’ berubah menjadi doa (tanpa /k/ malah menjadi /o/), sementara ni‘mah berubah menjadi nikmat. Padahal bila konsisten seperti perubahan pada nikmat, seharusnya kata du‘ā’ bukan berubah menjadi doa, tapi duka atau dua, maka di sini terjadi kepusingan ganda lantaran tidak konsisten. Pertama perubahan di situ tanpa fonem /k/, dan kedua, lebih parah, berubah menjadi fonem /o/, dan ini tanpa penjelasan, juga sulit dicari penjelasannya. Begitupun kasusnya dengan kata nuqṭah berubah menjadi noktah, tatkala perubahan fonem /o/ terjadi si situ. Sementara fiqh tidak menjadi fikh, melainkan fikih (dengan penambahan fonem /i/ setelah /k/), dan sudah barang tentu menjadi lebih memusingkan karena perubahan-perubahan tersebut benar-benar dibuat suka-suka, sesuka bukan ahli bahasa Arab. Pasalnya, jika mengikuti cara pengucapan santri Indonesia, maka pelafalannya adalah feqih, dan penuturan ini dituturkan oleh mayoritas Muslim Indonesia, ketimbang fikih. Maka tampak benar bahwa ahli bahasa Indonesia sama sekali tidak menguasai bahasa Arab, berikut tradisi perkembangannya di Indonesia. Belum lagi kata nikmat akan menemui kerumitan baru saat dihadapkan dengan kata Arab lainnya: niqmah. Bagaimana mengindonesiakan kata niqmah ini? Arti dari kata niqmah (amarah, kejengkelan, kekesalan, kemurkaan) berbeda jauh dari ni‘mah, tentu saja kedua kata tersebut tidak bisa diindonesiakan menjadi nikmat, tetapi juga tidak bisa tidak ada kata nikmat sebab sudah masuk ke dalam kosakata Indonesia. Begitupun inkonsistensi seperti ini muncul untuk transliterasi fonem /ẓā’/ (ظ), dalam mana berubah menjadi /z/, seperti lafaz, sementara  fonem dzāl (ذ) berubah jadi /z/ juga menjadi mazhab, padahal kedua huruf itu berbeda besar. Belum lagi kosa-kata lainnya seperti raḥmah, berubah menjadi rahmah (untuk nama perempuan) dan rahmat (untuk nama lelaki.) Terakhir, hal paling mengerikan adalah bukan saja perubahan fonem dalam transliterasi, namun juga perubahan makna membuat pertentangan secara tragis. Contohnya, kata Arab karāmah (kemuliaan) berubah menjadi keramat dalam bahasa Indonesia, tapi diartikan: angker, mengerikan dalam mana semua makna tersebut sama sekali berbeda dari makna aslinya dalam bahasa Arab.[4]

Oleh karenanya, berasaskan beberapa amsal dikemukakan di atas, kini bahasa Indonesia memerlukan satu pedoman baru sesuai kajian Islam, baik untuk transliterasi Arab ke Indonesia dengan menerakan dua fonem/huruf) (dapat dilihat dalam pedoman transliterasi di bawah), maupun untuk arti dan terjemahan. Sekalipun akan terjadi perbedaan dalam transliterasi untuk masing-masing individu ataupun lembaga kajian Islam, sehingga terkesan arbitrer (sewenang-wenang) juga, tapi perbedaan tersebut dapat diikuti dan diketahui secara jelas; ketimbang kesewenang-wenangan terjadi selama ini namun tidak bisa dipahami oleh para ahli kajian Islam. Begitupun terjemahan (alih-bahasa) dari para sarjana kajian Islam akan membantu dan mengoreksi kesalahan-kesalahan telah bertahan cukup lama.

Tahap selanjutnya, Jurnal Ilmu Ushuluddin (JIU)—sebagai jurnal akademik kajian Islam—menentukan pedoman penulisan seperti tertera di bawah, dan melalui JIU pula para ahli kajian Islam berupaya menawarkan penulisan kajian Islam secara baik dan benar.

 

1. Tulisan merupakan karya orisinal (bukan plagiasi) dan belum pernah dipublikasikan, atau sedang dalam proses publikasi pada media lain.

2. Naskah dapat berupa konsep, resume hasil penelitian, atau pemikiran tokoh.

3. Naskah dapat berbahasa Indonesia, Arab, atau Inggris; naskah harus memuat informasi keilmuan dalam bidang ilmu Ushuluddin (Falsafat Islam, Kalām, Falsafat Barat, Perbandingan Agama, Perbandingan Agama-Agama (Studi Agama-Agama), Tafsir, dan Ḥadīts.

4. Aturan penulisan sebagai berikut:

a. Judul. Ditulis tidak dengan huruf kapital semua, maksimum 12 kata, diposisikan di tengah (centered), menggunakan huruf Times New Roman ukuran 16.

b. Nama penulis. Ditulis utuh, tanpa singkatan, tanpa gelar, disertai afiliasi kelembagaan dengan alamat lengkap, dan email penulis.

c. Abstrak. Ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris antara 100-150 kata.

d. Kata kunci: antara 3-5 kata.

e. Sistematika penulisan memuat: pendahuluan, sub-judul (sesuai kebutuhan penulis) dan simpulan.

f. Ukuran kertas: HVS 80 gram dan A4, margin: atas 4 cm., bawah 3 cm., kiri 4 cm., dan kanan 3 cm.

g. Panjang naskah antara 15-25 halaman, spasi 1,5, huruf Times New Roman ukuran 12.

h. Pengutipan kalimat ditulis secara terpisah dari teks, dengan jarak 1 spasi, jika lebih dari 4 baris. Sedangkan kutipan kurang dari empat baris harus diintegrasikan dengan teks, dengan tanda apostrof ganda/tanda kutip/petik ganda (“...”) di awal dan akhir kutipan.

i. Keterangan kutipan diterakan dalam catatan kaki (footnote), bukan catatan dalam tubuh teks (bodynote) atau catatan akhir (endnote.)

j. penulisan footnote menggunakan sistem Turabian. Setiap sumber dikutip (artikel, buku, jurnal dan sebagainya) harus tercantum dalam pustaka acuan (bibliografi.)

k. Cara pembuatan footnote:

1) Buku: nama utuh penulis (tanpa gelar), judul buku (miring) (tempat terbit: penerbit, tahun terbit), halaman. Contoh: Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan: Sebuah Pengantar Filsafat (Ciputat: Lentera Hati, 2006), 16-7. (Perhatikan: tidak ada tanda baca koma setelah judul buku, dan nomor halaman hilang jika sama, seperti 16-17, menjadi 16-7.)

2) Buku terjemahan, contoh: Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Jilid 1 dan 2, terj. Tim Penerjemah Mizan (Bandung: Mizan, 2003), 14. (Penulisan cat. kaki tanpa banyak koma dan titik, tanpa tulisan halaman: hal./h., cukup diterakan angka 14 sebagai nomor halaman saja.)

3) Jurnal, contoh: M. Amin Nurdin, “State Conflict Management in Multiculturalism: Lesson from Australian Muslim Experience,” Ilmu Ushuluddin, Jurnal Hipius (Himpunan Peminat Ilmu-Ilmu Ushuluddin), Vol. 1, No. 1, 2011, 4. (Angka 4 adalah nomor halaman.)

4) Internet, contoh: http://bahasa.emdiknas.go.id/kbbi/index.php, diakses Kamis 29/5/2014, pkl. 20.47 WIB.

5) Artikel dari majalah, contoh: Nanang Tahqiq, “Beragama yang Menyentuh,” Gatra, 3 Februari 1996, No. 12, Tahun II, 108.

6) Artikel dari koran/surat kabar harian, contoh: Nanang Tahqiq, “The End of Religiosity,” Jakarta Post, Friday, October 20, 2006, 7.

6) Makalah dalam seminar, contoh: Agus Darmaji, “Filsafat Ilmu dalam Filsafat Barat,” disajikan dalam Seminar Nasional perihal epistemologi, diselenggarakan oleh FUF (Fakultas Ushuluddin dan Falsafah) UIN Ciputat, 23 September at 0900-1300 WIB., Ruang Teater lt. 4 FUF.

7) Skripsi/Tesis/Disertasi, contoh: Media Zainul Bahri, “”

8) Penulisan angka/nomor halaman: 11-12 ditulis 11-2, atau 104-105 ditulis 104-5. Adapun untuk angka-angka tidak sama maka harus ditulis lengkap, seperti 11-20, atau 104-200.

9) t.p. (tanpa penerbit), t.t. (tanpa tempat, tanpa tahun.)

l. Pedoman transliterasi (pemindahan huruf) dari Arab ke Indonesia atau Inggris

Arab Indonesia Inggris

ا                                                           a                                              a

ب                                                         b                                              b

ت                                                         t                                               t

ث                                                         ts                                              th

ج                                                          j                                               j

ح                                                          ḥ                                              ḥ

خ                                                          kh                                            kh

د                                                           d                                              d

ذ                                                           dz                                            dh

ر                                                          r                                               r

ز                                                          z                                              z

س                                                         s                                               s

ش                                                         sy                                             sh

ص                                                        ṣ                                               ṣ

ض                                                        ḍ                                              ḍ

ط                                                          ṭ                                               ṭ

ظ                                                          ẓ                                              ẓ

ع                                                          ‘                                               ‘

غ                                                          gh                                            gh

ف                                                         f                                               f

ق                                                          q                                              q

ك                                                          k                                              k

ل                                                          l                                               l

م                                                           m                                             m

ن                                                          n                                              n

و                                                          w                                             w

ه                                                           h                                              h

ء                                                          ’                                               ’

ي                                                         y                                              y

ة                                                           h                                              tanpa lambang

Vokal Panjang

آ                                                           ā                                              ā

إِى                                                         ī                                               ī

أُوْ                                                          ū                                              ū

m. Nama-nama Arab tanpa ditulis dalam bahasa lain seperti bahasa Latin, Indonesia, Inggris dan sebagainya, maka harus menggunakan transliterasi seperti Nabi Muḥammad, Abū Bakr, Khadījah, ‘Ā’isyah. Tapi Seyyed Hossein Nasr tidak ditulis Sayyid Ḥussayn Naṣr, Fazlur Rahman bukan Faḍl Raḥmān.

n. Nama-nama tokoh Islam klasik tidak menggunakan embel-embel kata Imam/Imām, tapi langsung namanya saja, seperti Bukhārī bukan Imam Bukhārī.

o. Tulisan bersambung dengan kata Allah tidak dipisah seperti: ‘Abdullāh  bukan ‘Abd Allāh,‘Ubaydillāh bukan ‘Ubayd Allāh. Tetapi kata Allah sendiri tidak perlu transliterasi jika bukan dari kata-kata Arab, termasuk kata Islam, juga kata Nabi, Rasulullah

p. Tulisan kata-kata:

Allah, bukan Allāh (jika bukan transliterasi)

Allāh, bukan Allah (jika transliterasi, cont.: “Allāh yaqūl fī al-Qur’ān

Faham, untuk aliran, madzhab (bedakan dari kata paham)

Fiqh, bukan fiqih atau fikih

Ilmu kalām, bukan ilmu kalam

Islam, jika bukan transliterasi, seperti agama Islam

Islām, jika transiterasi, seperti “Al-Islām ya‘lū wa lā yu‘lā ‘alayh

Nabi, bukan Nabī atau Nabiyy

Paham, untuk memahami (bedakan dari kata faham di atas)

Pikir, bukan fikir

Rasulullah, bukan Rasūlullāh

Salat, bukan ṣalāh atau ṣalāt

Tasauf, bukan tasawuf atau taṣawwuf atau tashawwuf

q. Kata /Islam/ dan /Muslim/ ditulis dengan huruf besar (kapital)

10) Penulisan menggunakan bahasa Indonesia sesuai EYD, terutama dengan memerhatikan:

Kata depan: di, ke, dari (di mana, ke kampus)

Kata tugas: yang, nan, untuk

Kata sambung: dan, atau

Kata sandang: si, sang

a) Semua kata berawalan /k/, /p/, /t/ menjadi luluh seperti:

Mengomunikasikan, bukan mengkomunikasikan

Menglaim, bukan mengklaim

Memertimbangkan bukan memertimbangkan

Memunyai, bukan mempunyai

Menransfer, bukan mentransfer

b) kata-kata /pun/ dipisah jika sendiri, seperti: “Anda pun adalah penulis,” tapi harus disambung jika dalam bentuk: bagaimanapun, jikapun, sekalipun, andaipun, di manapun, ke manapun, apapun dst.

12) Tulisan dimuat akan memeroleh 3-5 eksemplar jurnal, dan 1-3 eksemplar cover lepas (khusus cetakan untuk artikel masing-masing sang penulis.)

13) Cara penulisan daftar pustaka

a. Tanda petik/kutip satu (‘...’) untuk selain kutipan

b. Tanda petik/kutip dua (“...”) untuk kutipan kalimat saja

c. Kata /al/ dalam bibliografi ditulis kecil jika terkait nama seseorang

d. Nama-nama surat al-Qur’ān

e. Catatan kaki tanpa ibid, op.cit., atau loc.cit.

f. Kata-kata majemuk disatukan spt. katakunci, bukan kata-kunci atau kata kunci



[1] Perihal sejarah bahasa Indonesia seluruhnya disarikan dari Kenedi Nurhan, “EYD dan Proses Menjadi Indonesia,” liputan khusus ulang tahun Kompas ke-50 dengan tema “50 Tahun Kompas: Merekam dan Memaknai,” dalam Kompas, Jumat 26 Juni 2015, 44.

[2] Dikutip dari Frans Sartono, “Bahasaku Bersama Amir, Hasan, dan Tuti,” Kompas, “Tapak,” Minggu 12 Juli 2015, 18.

[3] Frans Sartono, “Bahasaku Bersama Amir, Hasan, dan Tuti,” 18.

[4] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cetakan 1 edisi 1 keramat diartikan angker, magis, mengerikan. Ini merupakan makna teramat konyol. Namun KBBI cetakan 7 edisi 4 sangat berubah drastis, dalam mana keramat diartikan suci. Tetapi makna ini pun masih konyol, masih salah, sebab kata karāmah bukanlah berarti ‘suci,’ melainkan ‘mulia.’ Di sini tampak benar bahwa penyusun bahasa Indonesia memang tidak menguasai bahasa Arab. Walau demikian, dalam kasus ini terbukti bahwa terhadap makna sekalipun ternyata bahasa Indonesia mengalami perubahan signifikan, sungguhpun masih juga gatot (gagal total.)

 

Submission Preparation Checklist

As part of the submission process, authors are required to check off their submission's compliance with all of the following items, and submissions may be returned to authors that do not adhere to these guidelines.

  1. The submission has not been previously published, nor is it before another journal for consideration (or an explanation has been provided in Comments to the Editor).
  2. The submission file is in OpenOffice, Microsoft Word, RTF, or WordPerfect document file format.
  3. Where available, URLs for the references have been provided.
  4. The text is single-spaced; uses a 12-point font; employs italics, rather than underlining (except with URL addresses); and all illustrations, figures, and tables are placed within the text at the appropriate points, rather than at the end.
  5. The text adheres to the stylistic and bibliographic requirements outlined in the Author Guidelines, which is found in About the Journal.
  6. If submitting to a peer-reviewed section of the journal, the instructions in Ensuring a Blind Review have been followed.
 

Copyright Notice

Authors who publish with this journal agree to the following terms:

    1. Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution Licensethat allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.

    1. Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.

  1. Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).

Ilmu Ushuluddin, have CC-BY-SA or an equivalent license as the optimal license for the publication, distribution, use, and reuse of scholarly work.

In developing strategy and setting priorities, Ilmu Ushuluddin recognize that free access is better than priced access, libre access is better than free access, and libre under CC-BY-SA or the equivalent is better than libre under more restrictive open licenses. We should achieve what we can when we can. We should not delay achieving free in order to achieve libre, and we should not stop with free when we can achieve libre.

Creative Commons License

Ilmu Ushuluddinis licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 International License

You are free to:

  • Adapt— remix, transform, and build upon the material for any purpose, even commercially.
  • The licensor cannot revoke these freedoms as long as you follow the license terms.

 

Privacy Statement

The names and email addresses entered in this journal site will be used exclusively for the stated purposes of this journal and will not be made available for any other purpose or to any other party.