MODEL ASESMEN PENANGANAN KEKERASAN SEKSUAL DAN INTEGRASI KONSELING SPIRITUAL DI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
DOI:
https://doi.org/10.15408/harkat.v21i2.51219Keywords:
Sexual Violence, PSGA, Assessment Model, Spiritual Counselling, Power Relations, Religious Higher Education, Kekerasan Seksual, Model Asesmen, Konseling Spiritual, Relasi Kuasa, Perguruan Tinggi KeagamaanAbstract
Abstract. Sexual violence in higher education is not only an individual offence, but also an institutional problem shaped by hierarchy, stigma, and unequal power relations. This study examines how the Center for Gender and Child Studies (PSGA) at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta operationalises its assessment model for handling sexual violence cases and how spiritual counselling is integrated into survivor rehabilitation. Using a descriptive qualitative case study, data were collected through two Focus Group Discussions, in-depth interviews, and review of PSGA service documents. Thirteen informants participated, including PSGA service managers, psychologists, spiritual counsellors, assistants, and student survivors. The findings show that PSGA applies a six-stage assessment model: initial identification, data collection, psychological assistance, legal assistance, survivor rehabilitation, and monitoring and evaluation. The model enables a more holistic response by combining psychological, legal, social, and spiritual support. Spiritual counselling contributes to recovery by helping survivors rebuild dignity, reduce self-blame, and reinterpret traumatic experiences through an inclusive and non-judgemental religious framework. However, the model remains constrained by seniority, institutional reputation, stigma, and limited long-term monitoring. The study concludes that effective handling of sexual violence in religious higher education requires systematic procedures, trauma-informed spiritual support, and firm institutional commitment to survivor protection and accountability mechanisms.
Abstrak
Kekerasan seksual di perguruan tinggi bukan hanya persoalan individual, tetapi juga masalah kelembagaan yang dipengaruhi oleh hierarki, stigma, dan relasi kuasa yang tidak setara. Penelitian ini mengkaji bagaimana Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengoperasionalkan model asesmen penanganan kekerasan seksual serta bagaimana konseling spiritual diintegrasikan dalam rehabilitasi penyintas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui dua sesi Focus Group Discussion, wawancara mendalam, dan telaah dokumen layanan PSGA. Sebanyak 13 informan terlibat, terdiri atas pengelola layanan, psikolog, konselor spiritual, pendamping, dan mahasiswa penyintas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PSGA menerapkan model asesmen enam tahap, yaitu identifikasi awal, pengumpulan data, pendampingan psikologis, pendampingan hukum, rehabilitasi penyintas, serta monitoring dan evaluasi. Model ini memungkinkan respons yang lebih holistik karena menggabungkan dukungan psikologis, hukum, sosial, dan spiritual. Konseling spiritual berkontribusi pada pemulihan dengan membantu penyintas membangun kembali martabat diri, mengurangi rasa bersalah, dan memaknai pengalaman traumatis melalui kerangka keagamaan yang inklusif dan tidak menghakimi. Namun, efektivitas model masih dibatasi oleh senioritas, reputasi institusi, stigma, dan lemahnya monitoring jangka panjang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi keagamaan membutuhkan prosedur sistematis, dukungan spiritual berbasis trauma-informed, serta komitmen kelembagaan terhadap perlindungan penyintas dan akuntabilitas.
References
Ahrens, C. E., Abeling, S., Ahmad, S., & Hinman, J. (2010). Spirituality and well-being: The relationship between religious coping and recovery from sexual assault. Journal of Interpersonal Violence, 25(7), 1242–1263. https://doi.org/10.1177/0886260509340533
Berhanu, W., Gobbo, E., Dube, A. A., Megersa, N., Amenu, Y., Demeke, M., Addisse, A., & Herzig Van Wees, S. (2025). Leveraging faith-leaders to prevent violence against women and girls: A qualitative study of evangelical faith-leaders’ perceptions in Woliso, Ethiopia. PLOS Global Public Health, 5(3), e0003301. https://doi.org/10.1371/journal.pgph.0003301
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa
Bryant-Davis, T., Ullman, S. E., Tsong, Y., & Gobin, R. (2011). Surviving the storm: The role of social support and religious coping in sexual assault recovery of African American women. Violence Against Women, 17(12), 1601–1618. https://doi.org/10.1177/1077801211436138
Bryant-Davis, T., & Wong, E. C. (2013). Faith to move mountains: Religious coping, spirituality, and interpersonal trauma recovery. American Psychologist, 68(8), 675–684. https://doi.org/10.1037/a0034380
CEDAW Committee. (1992). General Recommendation No. 19: Violence against women. United Nations.
CEDAW Committee. (2017). General Recommendation No. 35 on gender-based violence against women, updating General Recommendation No. 19. United Nations.
Crooks, C. V., Jaffe, P., Dunlop, C., Kerry, A., & Exner-Cortens, D. (2019). Preventing gender-based violence among adolescents and young adults: Lessons from 25 years of program development and evaluation. Violence Against Women, 25(1), 29–55. https://doi.org/10.1177/1077801218815778
Dworkin, E. R., Menon, S. V., Bystrynski, J., & Allen, N. E. (2017). Sexual assault victimization and psychopathology: A review and meta-analysis. Clinical Psychology Review, 56, 65–81. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2017.06.002
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2022). Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan pada Kementerian Agama.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.
Kennedy, A. C., & Prock, K. A. (2018). “I still feel like I am not normal”: A review of the role of stigma and stigmatization among female survivors of child sexual abuse, sexual assault, and intimate partner violence. Trauma, Violence, & Abuse, 19(5), 512–527. https://doi.org/10.1177/1524838016673601
Komnas Perempuan. (2023). Lembar fakta Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2023: Kekerasan terhadap perempuan di ranah publik dan negara: Minimnya perlindungan dan pemulihan. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.
Komnas Perempuan. (2024). Komnas Perempuan sosialisasikan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual kepada 2.500 mahasiswa baru UNPAK. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. Sage.
Moylan, C. A., & Javorka, M. (2020). Widening the lens: An ecological review of campus sexual assault. Trauma, Violence, & Abuse, 21(1), 179–192. https://doi.org/10.1177/1524838018756121
Republik Indonesia. (2022). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.
Riwanto, A., Harisudin, M. N., Suryaningsih, S., & Firmandiaz, V. (2023). Addressing campus sexual violence: A collaborative governance approach to legal policy. Volksgeist: Jurnal Ilmu Hukum dan Konstitusi, 6(2), 225–244. https://doi.org/10.24090/volksgeist.v6i2.9523
Smith, C. P., & Freyd, J. J. (2013). Dangerous safe havens: Institutional betrayal exacerbates sexual trauma. Journal of Traumatic Stress, 26(1), 119–124. https://doi.org/10.1002/jts.21778
United Nations General Assembly. (1993). Declaration on the Elimination of Violence against Women. United Nations.
Vladutiu, C. J., Martin, S. L., & Macy, R. J. (2011). College- or university-based sexual assault prevention programs: A review of program outcomes, characteristics, and recommendations. Trauma, Violence, & Abuse, 12(2), 67–86. https://doi.org/10.1177/1524838010390708
World Health Organization. (2007). WHO ethical and safety recommendations for researching, documenting and monitoring sexual violence in emergencies. World Health Organization.
World Health Organization. (2021). Violence against women prevalence estimates, 2018: Global, regional and national prevalence estimates for intimate partner violence against women and global and regional prevalence estimates for non-partner sexual violence against women. World Health Organization.
Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). Sage
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Wiwi Sajaroh

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.