Strengthening the Function of BAZNAS as Zakat Regulator: Legal Draft Proposal and Its Public Perceptions

Muhammad Nadratuzzaman Hosen, Abdul Wahab, Diah Larasati, Nur Hidayah, Tira Mutiara

Abstract


Zakat management in Indonesia is historically developed in civil society. In Law Number 38 of 2011, the state recognizes two official institutions in managing Zakat. While in Law Number 23 of 2011, zakat management is in BAZNAS, an institution formed by the government. There is an unequal position where LAZ is subordinated to BAZNAS. This can be seen in the task of LAZ, which is in charge of assisting BAZNAS in the management of national Zakat. The method used in this research is the descriptive statistical analysis method by distributing questionnaires. This study looks at the perception or views of the community if BAZNAS is the only authority in making arrangements for Zakat. As a result, BAZNAS has not become the only institution that the public can trust in managing national Zakat. People are accustomed to paying Zakat directly to mustahik or amil in the villages, such as paying Zakat to kyai. Distribution and distribution are not yet optimal, so the community prefers to give it themselves. Today's regulation of LAZ was adopted by the Ministry of Religion so that the relationship between BAZNAS and LAZ does not unite, which considers each other to be competitive. The proposal related to strengthening the regulation and management of Zakat by BAZNAS by only opening one coordination door has not been approved by the community because it is considered that the presence of BAZNAS will eliminate LAZ.

Keywords: Public Perception, BAZNAS, LAZ

Penguatan Fungsi BAZNAS Sebagai Regulator Zakat: Usulan RUU dan Persepsi Publik

Abstrak

Pengelolaan Zakat di Indonesia berdasarkan sejarah berkembang di masyarakat sipil. Dalam UU Nomor 38 tahun 2011, negara mengakui adanya dua lembaga yang resmi dalam melakukan pengelolaan zakat. Sementara di UU Nomor 23 tahun 2011, pengelolaan zakat berada di BAZNAS yang merupakan lembaga bentukan pemerintah sehingga adanya kedudukan yang tidak seimbang, dimana LAZ menjadi subordinasi BAZNAS. Hal ini terlihat pada tugas LAZ yang bertugas untuk mebantu BAZNAS dalam pengelolaan zakat nasional. Penelitian ini melihat bagaimana persepsi atau pandangan masyarakat, apabila BAZNAS menjadi satu-satunya otoritas dalam melakukan pengaturan tentang zakat. Metode yang digunakan penelitian ini ialah metode analisis statistik deskriptif dengan penyebaran kuesioner. Hasilnya, BAZNAS belum menjadi satu-satunya lembaga yang dapat dipercaya masyarakat dalam melakukan pengelolaan zakat nasional. Masyarakat terbiasa dengan membayar zakat secara langsung kepada mustahik atau amil di kampung-kampung seperti membayar zakat kepada kyai. Distribusi dan penyaluran yang belum optimal, maka masyarakat lebih memilih sendiri untuk memberikan. Aturan hari ini LAZ dianggap oleh Kemenag, sehingga hubungan BAZNAS da LAZ tidak menyatu yang menganggap saling bersaing. Usulan terkait dengan penguatan regulasi dan pengelolaan zakat oleh BAZNAS dengan hanya membuka satu pintu koordinasi belum disetujui masyarakat, karena dianggap kehadiran BAZNAS akan meniadakan LAZ.

Kata Kunci: Persepsi Masyarakat; BAZNAS; LAZ 

Усиление функции BAZNAS как регулятора закята: Правовой проект предложения и его общественное восприятие 

Аннотация

Управление закятом (Один из пяти столпов Ислама) в Индонезии исторически развивалось в гражданском обществе. В Законе № 38 от 2011 года государство признает два официальных учреждения в управлении закятом. В то время как в Законе № 23 от 2011 года управление закятом находится в BAZNAS (учреждение, которое осуществляет управление закятом на национальном уровне), учреждении, созданном правительством, так что возникает несбалансированная позиция, где LAZ (учреждение по управлению закятом, созданное частным сектором или вне правительства) становится подчиненным BAZNAS. Это видно из задачи LAZ, которое помогало BAZNAS в управлении национальным закятом. Метод, используемый в этом исследовании, представляет собой метод описательного статистического анализа путем распространения анкет. В этом исследовании рассматривается восприятие или взгляды сообщества на то, является ли BAZNAS единственным авторитетом в принятии решений о выплате закята. В результате BAZNAS не стал единственным учреждением, которому общественность может доверять в управлении национальным закятом. Люди привыкли платить закят непосредственно “Mustahik” (людям, которые имеют право на получение закята) или “Amil” (людям, ответственным за сбор и распределение закята) в деревнях, например, выплачивать закят в “kyai“ (Эксперт по исламу). Распространение и раздача пока не оптимальны, поэтому сообщество предпочитает раздавать его самостоятельно. Сегодняшнее положение о LAZ было принято Министерством по делам религии, чтобы отношения между BAZNAS и LAZ не объединялись, так как они считаются конкурирующими друг с другом. Предложение, связанное с усилением регулирования и управления закятом со стороны BAZNAS путем открытия только одной координационной двери, не было одобрено сообществом, поскольку считается, что присутствие BAZNAS устранит LAZ.

Ключевые слова: Общественное восприятие; BAZNAS; LAZ

 


Keywords


Public Perception; BAZNAS; LAZ

Full Text:

PDF

References


Ali, Muhammad Daud. (1988). Sistem Ekonomi Islam Zakat Dan Wakaf. Jakarta: UI Press.

Benda, Harry Jindrich. (1958). The Crescent and The Rising Sun: Indonesian Islam Under The Japanese Occupation, 1942-1945. The Hague: W. van Hoeve.

Budiman, Moch. (2020). “Melacak Praktik Pengelolaan Zakat Di Indonesia Pada Masa Pra-Kemerdekaan.” Jurnal Khazanah. Vol. 4, no. 1. 241–262.

Depag RI. (2002). Pedoman Zakat. Jakarta: Badan Proyek Peningkatan Zakat dan Wakaf.

Fadhilah, Nur. (2016). “Subordinasi Pengelolaan Zakat Oleh Masyarakat Dalam Peraturan Perundang-Undangan Di Indonesia.” Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam. Vol 7, no. 2. 498–533.

Faisal. (2011). “Sejarah Pengelolaan Zakat Di Dunia Muslim Dan Indonesia (Pendekatan Teori Investigasi-Sejarah Charles Peirce dan Defisit Kebearan Lieven Boeve).” Analisis XI, no. 2. 241–272.

Fakhruddin. (2008). Fiqh Dan Manajemen Zakat Di Indonesia. Malang: UIN Malang Press.

Fathonih, Ah. (2015). “Kritik Hukum Islam Terhadap Perubahan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat.” Asy-Syari’ah. Vol. 17, no. 3. 201–212.

Fauzia, Amelia. (2008). “Faith and State: A History of Islamic Philanthropy in Indonesia.” The University of Melbourne.

Forum Zakat. (2021). “Arsitektur Zakat Nasional Masa Depan: Menggagas Revisi UU No. 23/2011.” Webinar.

Hary, Djatmiko. (2019). “Re-Formulation Zakat System as Taxreduction in Indonesia.” Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies 9, no. 1. 135–162.

Jahar, Asep Saepudin. (2019). “Bureaucratizing Sharia in Modern Indonesia: The Case of Zakat, Waqf and Family Law.” Studi Islamika, Vol. 26, no. 2. 207–246.

Jazuni. (2005). Legislasi Hukum Islam Di Indonesia. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2019). “Putusan Nomor 86/PUU-X/2012.”

Nasution, Adnan Murrah. (2020). “Pengelolaan Zakat Di Indonesia.” JISFIM: Journal of Islamic Social Finance Management, Volume 1, no. 2. 293–305.

Nopiardo, Widi. (2019). “Perkembangan Peraturan Tentang Zakat Di Indonesia.” Jurnal Ilmiah Syari’ah. Vol 18, no. 1. 65–76.

Permono. (2005). Formula Zakat Menuju Kesejahteraan Sosial. Surabaya: PT Aulia.

Pusat Kajian Strategis BAZNAS. (2017). Outlook Zakat 2017. Document. Jakarta: BAZNAS.

Pusat Kajian Strategis BAZNAS. Statistik Zakat Nasional 2019, n.d.

Purnama, Deni. (2014). “Masyarakat Sipl Dan Pengelolaan Zakat: Reposisi LAZ Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2011.” Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah, Vol 2, no. 2 (94 116AD), 2014.

Peraturan Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2019 Tentang Tata Cara Permohonan Rekomendasi Izin Pembentukan Dan Pembukaan Perwakilan Lembaga Amil Zakat.

Peraturan Menteri Agama Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Dalam Pengelolaan Zakat.

Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat.

Qardawi, Yusuf. (1997). Fiqh Al-Zakat Dirasat Muqaranat Li Ahkamiha Wa Falsafatiha Fi Dhau‘i al-Qur‘an Wa al-Sunnah. 2nd ed. Beirut: Al-Risalah.

Rahardjo, Dawam. (1987). Perspektif Makkah Menuju Ekonomi Islam. Bandung: Mizan.

Rizqia, Luthfi Mafatihu. (2020). “The Democratic Zakat Implementation Model: A Shared Role Between State and Civil Society of Indonesia.” In ICRI 2018, 956–963.

Rozalinda. (2016). Ekonomi Islam Teori dan Aplikasi PadaAktivitas Ekonomi. Jakarta: Rajawali Press.

Shiddiqi, Nourouzzaman. (1997). Fiqh Indonesia: Penggagas Dan Gagasannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Siradj, Mustolih. (2014). “Jalan Panjang Legislasi Syariat Zakat Di Indonesia: Studi Terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat.” Jurnal Bimas Islam, Vol. 7, no. 3. 409–448.

Utami, Niken Subekti Budi. (2013). “Kriminalisasi Pengelolaan Zakat (Tinjauan Ketentuan Pasal 41 UU Nomor 23 Tahun 2011).” Yustisia, Vol 2, no. 1. 46–56.

Wibisono, Yusuf. (2015). Mengelola Zakat Indonesia: Diskursus Pengelolaan Zakat Nasional Dari Rezim Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 Ke Rezim Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011. Jakarta: Kencana.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan.

Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat.

“Wawancara Pribadi Dengan Achmad Ridwan (Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Pelaporan BAZNAS Jabar). Jakarta 15 September 2021.”




DOI: https://doi.org/10.15408/jch.v10i1.24448 Abstract - 0 PDF - 0

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Free counters!

View My Stats

Creative Commons License 
licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International