Vol 1, No 1 (2013)

Editorial: Empati - Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial

Tema jurnal edisi kali ini adalah seputar masalah kekerasan yang terjadi dalam kehidupan sosial dengan berbagai macam bentuknya. Prof. Azyumardi Azra menjelaskan tentang terjadinya kegalauan identitas dalam masyarakat Indonesia pada  masa Pasca Soeharto. Akar kegalauan identitas ini tidak hanya terkait dengan perubahan politik, sosial, ekonomi, budaya dan agama secara internal lokal, tetapi juga dengan ekspansi dan penetrasi perubahan akibat globalisasi. Akumulasi kegalauan ini mewujudkan dirinya dalam berbagai bentuk kekerasan. Salah satu tawaran Prof. Azyumardi mengatasi kegalauan ini yakni rejuvenasi dan revitalisasi Pancasila dengan melakukan diseminasi dan sosialisasi nilai nilai Pancasila.

Siti Napsiyah dalam tulisannya melihat bahwa maraknya kekerasan sosial di Indonesia dalam bentuk tawuran antar remaja, tawuran antar kampung, pembakaran rumah, atau pengeboman yang cenderung mengarah kepada tindakan terorisme dan radikalisme  karena dipicu oleh faktor fanatisme keagamaan, kelompok, kesukuan, dan karena faktor kesenjangan sosial ekonomi yang sangat lekat dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Solusi yang ditawarkan dalam mengatasi hal itu dengan pendekatan kesejahteraan (welfare approach).

Ismet Firdaus dalam tulisannya menjelaskan bahwa kekerasan terhadap anak terjadi juga dalam lingkungan Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA). Kekerasan yang terjadi di PSAA sebagian sudah mengarah pada kejahatan kekerasan baik itu fi sik, psikis dan seksual serta penelantaran. Merujuk pada hasil penelitian Kementerian Sosial, Unicef, Save the Children menunjukkan bahwa suatu hal yang mendukung terjadinya kekerasan fi sik dan psikis yang terjadi di PSAA berkaitan dengan suatu cara  panti asuhan  untuk mendidik dan mendisiplinkan anak. Solusi yang ditawarkan yaitu pihak Kementerian Sosial dan Dinas Sosial segera membuat kebijakan dan program: pelatihan Disiplin Positif, Akreditasi Panti Asuhan Anak, Monitoring dan Evaluasi (monev) panti asuhan anak secara berkala.

Hery Wibowo menjelaskan Kekerasan sosial hadir sangat dekat dengan kehidupan manusia di berbagai ranah kehidupan. Satu hal yang perlu diperhatikan dari kekerasan sosialnya adalah potensinya untuk membuat anak-anak (dan generasi muda lainnya) menjadi korban maupun pelaku dari kekerasan sosial itu sendiri. Ilmu Kesejahteraan Sosial, sebenarnya memiliki beberapa pendekatan, cara pandang dan instrument untuk berinteraksi dengan isu kekerasan sosial. Namun demikian hal tersebut kurang sering dikupas ataupun dibahas melalui penulisan ilmiah. Tulisan ini mencoba membuat model penanganan kekerasan sosial melalui pendekatan kesejahteraan dan kewirausahaan sosial.

Sementara Lisma dalam tulisannya melihat munculnya kekerasan pada anak di Panti Asuhan juga pada praktik pendisiplinan anak. Namun ia juga menyimpulkan dari temuannya bahwa sebenarnya ketidak-terpenuhi-nya kelima aspek standar pengasuhan anak tersebut juga berkontribusi pada terciptanya celah kekerasan terhadap anak asuh di PSAA Darul Aitam. Ketika praktik profesional, personal care (pemeliharaan diri anak), pengaturan staf, sumbersumber, dan administrasi di panti dilakukan dengan standar praktik terbaik dan berfokus pada kepentingan anak, maka celah kekerasan di PSAA dapat diminimalisir.

Terakhir, Rulli Nasrullah, dalam tulisannya mengemukakan bahwa Kejahatan terorisme dihubungan berkaitan dengan ideologi. Mengutif Sosiolog Van Dijk (1993) menyatakan bahwa ideologi adalah dasar suatu sistem mental yang dipertukarkan, yang direpresentasikan ke dalam kedua dalam tingkat  wacana dan aksi untuk pencapaian tujuan-tujuan atau keinginan dalam suatu kelompok. Pada penyebaran ideologi ini pada saat ini penggunaan teknologi internet sangat kuat dalam penyebaran pesan terorisme.  Ada beberapa alasan, pertama, interaksi yang terjadi di internet dapat  dilakukan dimanapun dan kapanpun. Kedua, pengguna internet di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cepat, yang diikuti kemudahan akses pada website atau content yang dapat diperoleh mengenai terorisme. Ketiga, media internet menyediakan akses tidak hanya murah tetapi gratis. Keempat,  internet membuat setiap orang membangun identitas baru tanpa diketahui identitas aslinya. Hal-hal Ini menurutnya merupakan kesempatan yang dapat digunakan oleh pelaku terorisme untuk menyebarkan ideologi terorisme dan kekerasan atas nama agama tanpa rasa takut akan identitas mereka dapat terungkap.

 

Jakarta, 28 Mei 2012

Redaksi

 

Table of Contents



Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta |  Support Center : SCS Multimedia