Dampak Tragedi Mina Tahun 1990 Terhadap Kebijakan Penyelenggaraan Haji Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.15408/sh.v3i1.38340Keywords:
Hajj, Mina Tragedy, Al-Muaishim Tunnel.Abstract
ABSTRACT
This research aims to describe the impact of the 1990 Mina tragedy on Indonesia's Hajj organizing policy in the following Hajj season. The author uses the historical method with a cultural and structural approach, which is a method of approaching problems through the perspective of culture and the structures attached to it. The results of this study show that there was an impact arising from the 1990 Mina tragedy. These impacts are the birth of Siskohat as an administrative system that is faster than the manual data collection system in 1990, the birth of Law No. 17 of 1999 concerning the Implementation of Hajj which was proposed by the PBNU after the 1990 Mina tragedy, the birth of the construction of Hajj Hospitals in four embarkations; Jakarta, Medan, Surabaya, and Ujung Pandang initiated by President Soeharto with financial support from the people of Indonesia and the Government of Saudi Arabia, and the improvement of pilgrims' facilities in Mina, including the construction of a new tunnel and improvement of pilgrims' camp facilities in Mina. The conclusion of this research shows that there is an impact of the 1990 Mina tragedy on Indonesia's Hajj organizing policy in the following Hajj season. This impact can be seen from the improvement of the administrative system, legislation, health facilities in Indonesia and public facilities in Mina.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak tragedi Mina tahun 1990 terhadap kebijakan penyelenggaraan haji Indonesia pada musim haji berikutnya. Penulis menggunakan metode historis dengan pendekatan kultural dan struktural, yaitu sebuah metode mendekati permasalahan melalui perspektif kebudayaan serta struktur yang melekat padanya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada dampak yang muncul dari tragedi Mina tahun 1990. Dampak tersebut ialah lahirnya Siskohat sebagai sistem administrasi yang lebih cepat dibanding sistem pendataan manual tahun 1990, lahirnya Undang-undang No. 17 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji yang menjadi usulan PBNU pasca tragedi Mina tahun 1990, lahirnya pembangunan RS Haji di empat embarkasi, Jakarta, Medan, Surabaya, dan Ujung Pandang yang diinisiasi oleh Presiden Soeharto dengan dukungan dana dari rakyat dan Arab Saudi, serta perbaikan fasilitas jemaah haji di Mina, termasuk pembangunan terowongan baru serta perbaikan fasilitas perkemahan jemaah haji di Mina. Adapun kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada dampak tragedi Mina tahun 1990 terhadap kebijakan penyelenggaraan haji Indonesia pada musim haji setelahnya. Dampak ini terlihat dari perbaikan sistem administrasi, perundang-undangan, fasilitas kesehatan dan fasilitas umum yang ada di Mina.
References
A. Jaiz, Hartono. “Terowongan Hartsul Lisan Menelan Korban.” Harian Pelita. Jakarta, Juli 6, 1990.
Ahmed, Uzair. “What Is Mina during Hajj? | Everything You Need To Know |.” The Pilgrim, Februari 12, 2022. Diakses pada Januari 23, 2024. https://thepilgrim.co/mina-hajj/.
Bambang, Dwi Hartono, Sarji, Ardianto Bayu Wibono, and Firman Muhammad. Manajemen Penyelenggaraan Ibadah Haji Menuju Kemandirian. Bogor: Zenawa Media Gidtama, 2021.
Endraswara, Suwardi. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003.
Hamid, Noor. Manajemen Haji Dan Umrah: Mengelola Perjalanan Tamu Allah Ke Tanah Suci. Yogyakarta: Semesta Aksara, 2020.
Huda, Nurcholis. Kisah Musibah Terowongan Mina. Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990.
Imam, Ayman, and Mohammad Alamoudi. “Mina: The City of Tents Origination and Development.” In 9° Congresso Città e Territorio Virtuale, Roma, 2, 3 e 4 Ottobre 2013, 1351–1365. Centre de Política de Sòl i Valoracions, 2014. Diakses pada Desember 4, 2023. http://hdl.handle.net/2099/16459.
Kasiri, Julisar, Ardian Taufik, Priyono Sumbogo, Baharun, and Djafar Bushiri. “Di Al-Muaisim, Allah Memanggilnya.” Majalah Tempo, Juli 14, 1990.
M. Nasir, Sidik. “Hari Ini, Presiden Resmikan RS Haji Pondok Gede Jakarta.” Harian Pelita. Jakarta, November 12, 1994.
Madjid, M. Dien. Haji Dalam Catatan Sejarah Kumpulan Tulisan Terpilih. Tangerang Selatan, 2022.
Mead, G.H. Mind, Self, and Society from the Standpoint of a Social Behaviorist. Mind, Self, and Society from the Standpoint of a Social Behaviorist. University of Chicago Press: Chicago, 1934.
Pane, Masdalina, Fiona Yin Mei Kong, Tri Bayu Purnama, Kathryn Glass, Sholah Imari, Gina Samaan, and Hitoshi Oshitani. “Indonesian Hajj Cohorts and Mortality in Saudi Arabia from 2004 to 2011.” Journal of Epidemiology and Global Health 9, no. 1 (Maret 27, 2019): 11–18.
Shariati, Ali. Hajj - The Pilgrimage. California: CreateSpace Independent Publishing Platform, 2015.
Siswoyo, P. Bambang. Tragedi Haji Terowongan Mina. Solo: Ud. Mayasari, 1991.
Tebba, Sudirman. Haji Pasca Perang Teluk. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.
Tulus. “Refleksi Perjalanan Siskohat.” Realita Haji, Mei 2014.
Zuhdy, Halimi. Sejarah Haji & Manasik. Malang: UIN Maliki Press, 2015.
Haji Berujung Maut- Insiden Jamaah Haji Indonesia Di Terowongan Mina 1990 | Kisah Haji, 2021. Diakses pada September 7, 2023. https://www.youtube.com/watch?v=tRriGsGuwdk.
Haji Dari Masa Ke Masa. Jakarta: Kementerian Agama RI Direktorat Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah, 2012.
“Hajj Stampede Near Mecca Leaves Over 700 Dead.” The New York Times. Last modified September 24, 2015. Diakses pada Desember 13, 2023. https://www.nytimes.com/2015/09/25/world/middleeast/mecca-stampede.html.
Huda, Nurcholis. Kisah Musibah Terowongan Mina. Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990.
“IDB Siapkan Dan Atur 500 Ribu Hewan Korban.” Harian Pelita. Jakarta, Juni 12, 1991.
“Jemaah Diharapkan Tidak Merusak Lingkungan Hidup.” Harian Pelita. Jakarta, Juni 11, 1991.
“Jenazah Haji Indonesia Dimakamkan Di Lokasi Khusus.” Harian Kompas. Jakarta, Juli 8, 1990.
“Kemudahan Bagi Tamu-Tamu Allah.” Majalah Tempo. Jakarta, Juli 14, 1990.
“Kemungkinan ‘Hypoxia’ Di Terowongan Mina.” Harian Pelita. Jakarta, Juli 10, 1990.
“Laporan Pertemuan Dengan Duta Besar Arab Saudi No. MA/017/1991.” Menteri Agama RI, Januari 16, 1991.
Makkah City Profile. Riyadh: Ministry of Municipal and Rural Affairs, 2019.
“Menag a.i. Soepardjo Rustam Akan Melepas Kloter Terakhir.” Harian Pelita. Jakarta, Juni 14, 1991.
“Mobil Kecil Dilarang Masuk Kota-Kota Suci.” Harian Pelita. Jakarta, Juni 8, 1991.
“Musibah Yang Menimpa Jemaah Haji.” Pelita. Jakarta, Juli 5, 1990.
“NU Usulkan Penyempurnaan Penyelenggaraan Ibadah Haji.” Harian Pelita. Jakarta, Agustus 1990.
Perundang-Undangan Tentang Penyelenggaraan Haji. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2002.
“Pokok-Pokok Pikiran Nahdlatul Ulama Tentang Penyempurnaan Penyelenggaraan Ibadah Haji.” Harian Pelita. Jakarta, Agustus 1990.
“Raja Fahd Janji Ibadah Haji Tak Diwarnai Kekerasan Lagi.” Harian Kompas. Jakarta, Juni 25, 1991.
“Ratusan Jemaah Haji Tewas Berdesak-Desakan.” Harian Kompas. Jakarta, Juli 4, 1990.
“Rekapitulasi Jumlah Jamaah Haji Indonesia Korban Terowongan Al-Muaisim Mina Berdasarkan Daerah Embarkasi.” Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji, Januari 25, 1991.
“Seluruh Jemaah Harus Pakai Tanda Gelang.” Harian Pelita. Jakarta, Juni 9, 1991.
“Semua Jemaah Haji RI Sudah Memperoleh Visa.” Harian Pelita. Jakarta, Mei 1991.
Siswoyo, P. Bambang. Tragedi Haji Terowongan Mina. Solo: Ud. Mayasari, 1991
“Terowongan Muaishim Saksi Bisu.” Sriwijaya Post. Palembang, Juli 20, 1990.
“Utusan Dari Raja Fahd Membantah.” Harian Kompas. Jakarta, Juli 17, 1990.
