THE RADICALISM OF YOUNG PEOPLE IN INDONESIA THE RELIGIOUS PORTRAITS OF ISLAMIC SPIRITUAL ORGANIZATIONS

Jaetul Muchlis

Abstract


Abstract. Youth, radicalism, and intolerance are serious problems that continue to develop and become a discourse in Indonesia and other countries, including the Middle East. In recent years, the emergence of symptoms of radicalism and intolerance among young people has increased. The tendency to increase the interest of Muslim youth to join organizations or religious groups that are intolerant also contributes to the significant increase in the symptoms of radicalism. Symptoms that appear make them have an intolerant and extremist attitude that leads to violence. Data from the research results and deepening of the BNPT strengthen this phenomenon. In Indonesia, some of the perpetrators of acts of terrorism are still young. They were about 23-27 years old with a lack of religious understanding. Even the movement mode of radical groups targeting young people is mainly concentrated in educational institutions at the junior high school and senior high school levels, even at the university level, such as Islamic spiritual youth group (Rohis). among students. Various kinds of religious upheaval are often related to social change and the things that accompany it, including social unrest, mobility, and conflict. The theme of religious radicalism is undoubtedly not new. However, the author assumed that the composition of radicalism remains essential, and needs to be developed continuously by all generations. The study written in this paper will explore the phenomenon of young people and the behavior of radicalism and intolerance in educational institutions such as Rohis (Intelorance in the Rohis literature) and society in general.

Abstrak. Pemuda, radikalisme, dan intoleransi adalah masalah serius yang hingga kini terus berkembang dan menjadi diskursus di Indonesia dan negara-negara lain termasuk di Timur Tengah. Fenomena munculnya gejala radikalisme dan intoleransi di kalangan kaum muda dalam beberapa tahun terakhir ini meningkat. Kecenderungan peningkatan minat kaum muda Islam bergabung dalam organisasi-organisasi atau kelompok-kelompok keagamaan yang terindikasikan intoleran turut mensuplai besarnya peningkatan gejala radikalisme. Gejala yang muncul menjadikan mereka memiliki sikap intoleran dan ekstrimis yang mengarah pada tindakan kekerasan. Data dari hasil penelitian dan pendalaman BNPT memperkuat fenomena tersebut, dewasa ini di negara Indonesia sebagian pelaku aksi terorisme diketahui berusia muda, berada di rentang usia kisaran 23-27 tahun dengan pemahaman keagamaan yang rendah. Bahkan modus pergerakan kelompok radikal dengan sasaran kaum muda banyak  terkonsentrasi di lembaga-lembaga pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Mengah Atas bahkan sampai ke tingkat perguruan tinggi seperti Rohis, misalnya berdasarkan hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) menunjukan adanya faham konservatisme keagamaan di kalangan Siswa. Berbagai macam pergolakan keagamaan pun sering dijumpai berkaitan dengan perubahan sosial dengan hal-hal yang menyertainya, termasuk di dalamnya keresahan sosial, mobilitas, dan pertikaian. Tema radikalisme paham keagamaan tentu bukan merupakan tema baru, namun demikian penulis berasumsi bahwa tema radikalisme tetap penting dan perlu dikembangkan secara terus-menerus oleh banyak orang atau penulis dari semua generasi. Pada pengkajian yang ditulis dalam makalah ini akan mengeksplor fenomena kaum muda serta perilaku radikalisme dan intoleransi di Lembaga Pendidikan seperti Rohis (Inteloransi dalam literatur Rohis) dan di masyarakat secara umum.

 


Keywords


intolerance; young people; radicalism; intoleransi; kaum muda; radikalisme

References


Amin, Rusli. (2003). Menjadi Remaja Sukses. Jakarta: Al-Mawardi Prima.

Appleby, R. Scott. (2017). The Ambivalence of the Sacred: Religion, Violence and Reconciliation. USA: Nowman and Litlefield Publisher, Inc.

Azca, Muhammad Najib. (2020). “Yang Muda Yang Radikal Refleksi Sosiologis Terhadap Fenomena Radikalisme Kaum Muda Muslim Di Indonesia Pasca Orde Baru.” Jurnal Maarif 8, no. 1: 14–44.

Bakti, Agus Surya. (2014). Darurat Terorisme: Kebijakan Pencegahan, Perlindungan Deradikalisasi. Jakarta: Daulat Press,

Bakti, Agus Surya. (2016). Deradikalisasi Nusantara (Perang Semesta Berbasis Kearifan Lokal Melawan Radikalisasi Dan Terorisme). Jakarta: Daulat Press,

Chafsoh, Zannuba Ariffah, and Yenny Wahid. (2020. “Surve Wahid Institute: Intoleransi-Radikalisme Cenderung Naik.” Media Indonesia.

Fanani, Ahmad Fuad. (2013). “Fenomena Radikalisme Di Kalangan Kaum Muda.” Jurnal Maarif 8, no. 1: 1–14.

International Crisis Group. (2003). "Radical Islam in Central Asia: Responding to Hizbut Tahrir." Jurnal International Crisis Group 1, no. 1.

Hadiz, Vedi R. (2016). Islamic Populism in Indonesia and the Middle East. Cambridge: Cambridge University Press.

Henslin, James M. (1990). Social Problems, Prentice Hall, Englewood Cliffs. New Jersey: Second Edition.

Huda, Nurul Muhammad. (2017). Intoleransi Kaum Muda Di Tengah Kebangkitan Kelas Menengah Muslim Di Perkotaan. Jakarta: Wahid Foundation.

Khamdan, Muhammad. (2015). “Rethinking Deradikalisasi: Konstruksi Bina Damai Penanganan Terorisme.” Jurnal ADDIN 9, no. 1: 181–204.

Meyer, Mark Juergen. (2003). Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (Comparative Studies in Religion and Society). USA: Sage Publication, Inc.

Mulyadi. (2017). “Peran Pemuda Dalam Mencegah Paham Radikalisme.” In Prosiding Seminar Nasional 20 Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang. Palembang.

Nuraida. (2011). “Gerakan Radikalisme Islam Di Indonesia.” Jurnal Wardah 22, no. 23: 154.

Nurjannah. “Faktor Pemicu Radikalisme Islam Atas Nama Dakwah.” Jurnal Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 14, no. 2 (2013): 132.

Kompas. (2015). “Paus Fransiskus: Dilarang Menghina Agama Orang Lain.” Manila.

Qardhawi, Yusuf. (2014). Islam Radikal (Analisis Terhadap Radikalisme Dalam Berislam Dan Upaya Pemecahannya. Solo: Era Intermedia.

Qodir, Zuly. (2016). “Kaum Muda, Intoleransi, Dan Radikalisme Agama.” Jurnal Studi Pemuda 5, no. 1: 429–45.

Qodir, Zuly. (2014). Radikalisme Agama Di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rakhmani, Inaya, and Lila Abu-Lughod. (2017). Mainstreaming Islam in Indonesia. London: Palgrave Macmilan.

Ridwan, Akbar. (2019) “3 Macam Radikalisme Di Indonesia,”. https://www.alinea.id/nasional/3-macam-radikalisme-di-indonesia-b1XpS9pdd.

Rubaidi. (2007). Radikalisme Islam: Nahdatul Ulama Masa Depan Moderatisme Islam Di Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.

Shihab, Charis. (2013). Ibadah Yang Mengantar Hidup Sukses Dan Penuh Barokah. Jakarta: Mitra Press.

Supriadi, Endang. (2018). “Radikalisme Dan Kaum Muda Dalam Perspektif Sosiologi.” Living Islam Journal of Islamic Discourses 1, no. 1: 69–84.

Suratno. (2020). “Tidak Memulangkan Eks-ISIS Sudah Tepat Secara Politis, Tapi Memikirkan Perspektif Korban Tetap Harus Dipertimbangkan,” BincangSyariah.Com.

Syahputra, Iswandi. (2018). “Media Sosial Dan Prospek Muslim Kosmopolitan; Konstruksi Dan Peran Masyarakat Siber Pada Aksi Bela Islam.” Jurnal Komunikasi Islam 8, no. 1: 1–20.

Taher, Tarmizi, Hery Sucipto, and Rahmani Sabirin. (2004). Meredam Gelombang Radikalisme. Jakarta: Center for Moderate Moslem.

Widyaningsih, Rindha, Sumiyem, and Kuntarto. (2017). “Kerentanan Radikalisme Agama Di Kalangan Anak Muda.” Jurnal Prosiding Seminar Nasional Dan Call for Papers ”Pengembangan Sumber Daya Perdesaan Dan Kearifan Lokal Berkelanjutan” 17, no. 11: 1553–62.


Full Text: PDF

DOI: 10.15408/mimbar.v38i2.25167

Refbacks

  • There are currently no refbacks.