The Mixing of Halal and Haram Food through Istiḥālah: A Comparative Study of the Shāfiʿī and Ḥanafī Schools

Pencampuran Makanan Halal dan Haram melalui Istiḥālah: Studi Komparatif Mazhab Syafiʿi dan Mazhab Hanafi

Authors

  • Karin Karin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia
  • Andi Syafrani UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.15408/mr.v2i2.38308

Abstract

Abstract

This study aims to analyze the legal status of mixing halal and haram food through the concept of istiḥālah according to the Shāfiʿī and Ḥanafī schools of Islamic jurisprudence. In Islam, the distinction between halal and haram consumption constitutes a fundamental aspect of Muslim life, encompassing food, beverages, clothing, and other products that comply with religious teachings. Conversely, haram consumption refers to goods and practices that are explicitly prohibited under Islamic law. This research employs a qualitative method with a normative legal and comparative madhhab approach through a literature review of classical fiqh texts and contemporary scholarly works. The findings reveal that the Ḥanafī school adopts a broader application of the doctrine of istiḥālah, recognizing the transformation of an impure substance into a pure one, whether the transformation occurs naturally or through human intervention and technological processes, provided that all characteristics of impurity have completely disappeared from the original substance. In contrast, the Shāfiʿī school limits the application of istiḥālah to three textually recognized situations: the natural transformation of wine into vinegar, the tanning of hides from carcasses other than dogs and pigs, and the transformation of a carcass into a new living organism. Consequently, the Shāfiʿī school does not generally recognize the purification of impure substances through modern industrial processes. This divergence has significant implications for the halal status of contemporary processed food products containing additives such as gelatin, emulsifiers, and enzymes derived from non-halal sources. While the Ḥanafī approach is more accommodating to developments in food technology, the Shāfiʿī approach emphasizes greater caution and relies on official halal certification to ensure legal certainty for Muslim consumers.

Keywords: Istiḥālah; Halal and Haram; Shāfiʿī School; Ḥanafī School; Halal Certification.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hukum pencampuran makanan halal dan haram melalui konsep istiḥālah menurut mazhab Syafiʿi dan mazhab Hanafi. Dalam pandangan Islam, konsumsi halal dan haram merupakan aspek fundamental yang mengatur kehidupan umat Islam, mencakup makanan, minuman, pakaian, dan berbagai produk lain yang sesuai dengan ketentuan syariat. Sebaliknya, konsumsi haram merujuk pada barang dan praktik yang secara tegas dilarang dalam Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hukum normatif dan perbandingan mazhab melalui kajian kepustakaan terhadap kitab-kitab fikih klasik dan literatur kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mazhab Hanafi menerapkan teori istiḥālah secara lebih luas, yaitu menerima perubahan zat najis menjadi suci, baik yang terjadi secara alami maupun melalui intervensi manusia dan proses teknologi, selama sifat-sifat kenajisannya telah hilang sepenuhnya dari bahan asal. Sebaliknya, mazhab Syafiʿi membatasi penerapan istiḥālah hanya pada tiga keadaan yang ditetapkan secara tekstual, yaitu perubahan khamr menjadi cuka secara alami, penyamakan kulit bangkai selain anjing dan babi, serta perubahan bangkai menjadi makhluk hidup baru. Oleh karena itu, mazhab Syafiʿi pada umumnya tidak mengakui transformasi zat najis melalui proses industri modern sebagai bentuk penyucian. Perbedaan tersebut berimplikasi signifikan terhadap status kehalalan produk pangan olahan kontemporer yang menggunakan bahan tambahan seperti gelatin, emulsifier, dan enzim yang berasal dari sumber nonhalal. Pendekatan Hanafi cenderung lebih akomodatif terhadap perkembangan teknologi pangan, sedangkan pendekatan Syafiʿi menekankan prinsip kehati-hatian yang lebih tinggi dan menjadikan sertifikasi halal resmi sebagai instrumen penting untuk menjamin kepastian hukum bagi konsumen Muslim.

Kata Kunci: Istiḥālah; Halal dan Haram; Mazhab Syafiʿi; Mazhab Hanafi; Sertifikasi Halal.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Masjfuk Zuhdi, Pembaharuan Pemikiran Hukum Islam dan Problematikanya dalam Menghadapi Perubahan Sosial (Jakarta: CV. Haji Masagung, 1994).

Yusuf Al-Qaradlawi, Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, Jakarta : Dinamika Berkah Utama.

As-Syafi’I, Muhammad bin Idris, Al-Umm, Beirut : Dar al-Ma’rifah.

Ali Mustafa Yakub, Kriteria Halal dan Haram untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Menurut Al-Qur’an dan Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus 2013).

Al-Syurbasi, Ahmad, Sejarah dan Biografi Empat Imam Mazhab, cet. kelima. (Jakarta : Amzah, 2008).

Abbas, Sirajuddin, Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i, cetakan ke 15, (Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 2007).

Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Qur'an, Kritik Terhadap Ulumul Qur'an (Yogyakarta: EKIS, 2003).

Asymuni Mu'in dkk, Ushul Fiqh: Qaidah Qaidah Istinbath dan Ijtihad (Jakarta: Dirjend Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag, 1986).

Huzaimah T.Y, Pengantar Perbandigan Mazhab (Jakarta: Logon Wacana Ilmu, 1999).

T. M. Hasbi al-Shidieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Madrhab (Semarang: Pustaka Rizgi Putra, 1999).

Abu Zahrah, Al-Syafi'i Hayatuhu wa Asruhu wa Ara'uhu wa Fiqhuhu (Beirut: Dar al- Fikr, 1418 H/1997).

Abdurrahman, Perbandingan Madzhab-Madzhab, (Bandung: CV. Sinar Baru, 1986).

Wahbah Zuhayli, Al Fiqh Al Islami Wa’adillatuh, (Terj) Agus Efendi, Bahrudin Fanani, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1995

Hassan, Al-Jamal, Biografi 10 Imam Besar, ( Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005).

Ibn Rusyd, Abu. Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtasid. juz.1. (Beirut: Dar al-Fikr. 1995).

Ibnu Hajar, Ahmad Bin Ali Bin Muhammad Bin al-Asqalany. Bulughul Maram, (Mesir: Mathba’ah al-Salafiyah, 1993).

Nawawi, Abu Zakariya. al-Majmu Syarh al-Muhadzhab li al-Syirazi. (Jeddah: Maktabah al-Irsyad.1992).

Muslim, Hajjaj Abu Hasan al-Naisaburi. al- Musnadu Shahih al-Mukhtasor bi Naqli Adli Annil Adli Ila Rasullilllah SAW. (Beirut: Dar al-Ihya al-Turath al-Arabi, 261H ).

Muslim Ibrahim, Pengantar Fiqh Muqaaran, Jakarta : Erlangga, 1990

Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, ( Bandung: Gema Risalah Press, 1996).

Sabiq, Sayid. Fiqh Sunnah. Jil. XII: (Jakarta: Bulan Bintang. 1990), hlm.196.

Ibn Nujaym, Bahr al-Ra’iq Syarh Kanz al-Daqa’iq. juz 1, (Beirut: Dar al- Kutub al Ilmiyyah, 1997).

Tim LP POM MUI, "Urgensi Sertifikasi Halal", dalam Ichwan Sam, et. al., 2 Ijma' Ulama Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia III Tahun 2009, Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, Cet. ke-1, 2009

Aisjah Girindra, Pengukir Sejarah Sertifikasi Halal, (Jakarta: LP POM MUI,2005).

Abdul Azis Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1996).

Jubran Mas'ud, al-Raid, 562; Ibrahim, al-Mu'jam al-Wasit, 168-169.; lihat juga Qutub Mustafa Sanu, Mu'jam Mustalaḥat Usul al-Fiqh (Beirut: Dar al-Fikr al-Mu'asir, 2000).

Wahbah al-Zuhaili, Usul al-Fiqh al-Islami (Dimashq: Dar al-Fikr, 2005).

Abdul Azis Dahlan et al., Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2006).

Ibn 'Abidin, Hashiyah Radd al-Muhtar 'ala al-Dur al-Mukhtar (Mesir: Mustafa al-Bab al-Halabi, 1966).

al-Nawawi, Minhaj al-Talibin wa 'Umdah al-Muffin (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), 143.; lihat juga Mustafa al-Khin dan Mustafa al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji (Damshiq: Dar al-Qalam, 1996).

Muslim, Kitab Muslim, Hadits No. 2996, ( Lidwah Pustaka i-Software-Kitab sembilamn imam ).

Nasai. Kitab Nasai, Hadist No. 5488, (Lidwah Pustaka i-Software-Kitab Sembilan Imam).

Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Nisaburi, Sahih Muslim, Kitab al-Zakat, Bab Qabil al-Sadaqah min al-Kasb al-Tayyib wa Tarbiyatuhi, nomor. 1686

Published

29-12-2024

How to Cite

The Mixing of Halal and Haram Food through Istiḥālah: A Comparative Study of the Shāfiʿī and Ḥanafī Schools: Pencampuran Makanan Halal dan Haram melalui Istiḥālah: Studi Komparatif Mazhab Syafiʿi dan Mazhab Hanafi. (2024). Muqarin Review: Jurnal Perbandingan Mazhab, 2(2), 54-68. https://doi.org/10.15408/mr.v2i2.38308