Profil Pelayanan Informasi Obat pada Pelayanan Swamedikasi Obat Allopurinol di Apotek Kabupaten Bekasi

Authors

  • Clarisya Pramirusanti Putri Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN)
  • Ainun Wulandari Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN)
  • Tahoma Siregar Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN)

DOI:

https://doi.org/10.15408/pbsj.v6i1.35167

Keywords:

Allopurinol, Pelayanan Informasi Obat, Pasien Simulasi

Abstract

Tenaga kefarmasian merupakan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat, salah satunya Pelayanan Informasi Obat khususnya dalam memberikan pelayanan pengobatan mandiri. Peran apoteker di apotek dapat dikatakan belum maksimal, baik dalam penggalian informasi maupun teknis pelayanan informasi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui layanan informasi obat pada layanan pengobatan mandiri allopurinol di apotek di Kabupaten Bekasi. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan secara observasional dengan menggunakan metode simulasi pasien, yaitu simulasi pasien yang telah dilatih. Pemilihan sampel apotek menggunakan metode Probability Sampling dan Cluster Random Sampling dengan jumlah apotek yang ada di Kabupaten Bekasi sebanyak 76 buah yang terbagi dalam 21 kecamatan. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah petugas di bagian apotek yaitu apoteker, asisten apoteker, dan petugas non apotek. Instrumen penelitian yang digunakan adalah checklist yang berisi kriteria informasi yang harus disediakan oleh tenaga farmasi dalam pelayanan informasi obat sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggalian informasi dari pasien dikategorikan buruk dengan nilai 0,16% (≤70%), pemberian informasi obat allopurinol dikategorikan buruk dengan nilai 14,11% (≤70%), sehingga kualitas pelayanan kesehatan baik. pelayanan informasi obat yang dilakukan oleh apoteker (7,57%), oleh asisten apoteker (7,18%), dan oleh petugas non apotek (6,56%), dimana ketiganya termasuk dalam kategori buruk (≤70%). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa peran petugas apotek dalam memberikan pelayanan informasi obat allopurinol masih rendah dan perlu ditingkatkan.

Author Biographies

  • Ainun Wulandari, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN)
    Lektor Fakultas Farmasi Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN)
  • Tahoma Siregar, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN)
    Asisten Ahli Fakultas Farmasi Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN)

Downloads

Published

2024-07-12

Issue

Section

Articles

How to Cite

Profil Pelayanan Informasi Obat pada Pelayanan Swamedikasi Obat Allopurinol di Apotek Kabupaten Bekasi. (2024). Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal (PBSJ), 6(1), 24-36. https://doi.org/10.15408/pbsj.v6i1.35167