Reconstruction to Prove Elements of Detrimental to State Finances in the Criminal Act of Corruption in Indonesia

Firmansyah Firmansyah, Topo Santoso, Febrian Febrian, Nashriana Nashriana

Abstract


Abstract

State financial loss is one of the elements of the criminal act of corruption in Article 2 paragraph (1) and Article 3 of Law No. 31 of 1999 in conjunction with Law No. 20 of 2001 concerning the Eradication of Corruption Crime. The formulation of the element of detrimental to state finances in the two articles at the level of evidence still raises various obstacles because it is an obscure norm and is multi-interpretative. The results of the research show that proving that the element of detrimental to state finances in the criminal act of corruption is still understood as a formal crime so that the proof is sufficient by fulfilling the act and there is no need for consequences, whether potential loss of state finances or actual loss, the perpetrator can be convicted. After the Constitutional Court through its decision Number 25/PUU-XIV/2016 stated that the word "can" in Article 2 paragraph (1) and Article 3 is unconstitutional and has fundamentally changed the qualification of corruption to become a material crime, but in its application there are different views of law enforcement officials in proving that the element is detrimental to state finances, giving rise to legal uncertainty. In the upcoming reform of the criminal law of corruption, a more appropriate model of proof is to use the concept of state financial loss in the sense of the material crime. Through this concept, a new act can be seen as fulfilling the elements of a corruption crime on the condition that there must be an effect that the state loss is real and occurs (actual loss). The concept of proving state financial losses in a material sense ensures fair legal certainty.

Keywords: Reconstruction, Evidence, State Financial Losses, Corruption Crime.

 

Abstrak

Kerugian keuangan negara merupakan salah satu unsur tindak pidana korupsi dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Jo Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Rumusan unsur merugikan keuangan negara pada kedua pasal tersebut dalam tataran pembuktian masih menimbulkan berbagai hambatan karena merupakan norma kabur dan bersifat multi tafsir. Hasil penelitian menunjukan, meskipun Mahkamah Konstitusi dalam putusannya Nomor 25/PUU-XIV/2016 telah menyatakan kata “dapat” pada kedua pasal tersebut inkonstitusional, telah merubah secara mendasar tindak pidana korupsi menjadi tindak pidana materiel, namun dalam penerapannya terdapat ketidakseragaman pandangan aparat penegak hukum dalam membuktikan unsur tersebut sehingga telah menimbukan ketidakpastian hukum. Model pembuktian yang lebih tepat adalah menggunakan konsep kerugian keuangan negara dalam arti tindak pidana materiel. Melalui konsep ini, suatu perbuatan baru bisa dipandang memenuhi unsur tindak pidana korupsi dengan syarat harus adanya akibat bahwa kerugian negara benar-benar nyata dan terjadi (actual loss). Konsep pembuktian kerugian keuangan negara dalam arti materiel lebih menjamin kepastian hukum yang adil.

Kata Kunci: Rekonstruksi, Pembuktian, Kerugian Keuangan Negara, Tindak Pidana Korupsi.


Аннотация

Финансовые убытки государства являются одним из элементов коррупции в пункте (1) статьи 2 и в статье 3 Закона № 31 от 1999 г. в сочетании с Законом № 20 от 2001 г. Об Искоренении коррупционных преступлений. Расположение элементов, наносящих ущерб государственным финансам, в двух статьях на уровне доказательств по-прежнему создает различные препятствия, поскольку эта норма расплывчата и имеет множество толкований. Результаты исследования показывают, что доказательства элементов, которые наносят ущерб государственным финансам в преступном акте коррупции, по-прежнему понимаются как формальное преступление, так что доказательства являются достаточными путем совершения действия, и нет необходимости в последствиях, будь то потенциальный ущерб государственных финансов или фактических ущерб, виновный может быть осужден.  После того, как Конституционный суд через его решение № 25/PUU-XIV/2016 заявил, что слово «может» в статье 2 (1) и статьи 3 является неконституционным и коренным образом изменил квалификацию коррупции в материальное преступление, но в естественном применении существуют различные точки зрения сотрудников правоохранительных органов в доказательстве того, что эти элементы наносят ущерб государственным финансам , вызывая юридическую неопределенность. В рамках предстоящей реформы уголовного законодательства о коррупции более подходящей моделью доказательства является использование концепции финансовых потерь государства в смысле материального преступления. В рамках этой концепции новый закон может рассматриваться как выполнение элементов преступного коррупционного деяния при условии существования реальных и возникающих потерь государства (фактическая потеря).

Ключевые Слова: Реконструкция, Доказательства, Финансовые Потери Государства, Коррупционная Преступность


Keywords


Rekonstruksi, Pembuktian, Kerugian Keuangan Negara, Tindak Pidana Korupsi.

Full Text:

PDF

References


Books:

Atmasasmita, R. 2013. Kapita Selekta Kejahatan Bisnis dan Hukum Pidana (Buku I), PT. Fikahati Aneska, Jakarta.

Chaerudin, D; Ahmad, S; & Fadillah, S. 2008. Strategi Pencegahan dan Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi, Refika Aditama, Bandung.

Effendi, M. 2012. Kapita Selekta Hukum Pidana, Perkembangan dan Isu-isu Faktual Dalam Kejahatan Finansial dan Korupsi, Referensi, Jakarta.

Harahap, MY. 2005. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali, Sinar Grafika, Jakarta.

Indrayana, D. 2016. Jangan Bunuh KPK, Intrans Publishing, Jakarta.

Indonesia Corupption Watch, 2014. Penerapan Unsur Merugikan Keuangan Negra dalam Delik Korupsi, Police Paper, Jakarta.

Kristiana, Y. 2016. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Perspektif Hukum Progresif, Thofamedia, Yogyakarta.

Lamintang, PAF. 1997. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya, Bandung.

Makawimbang, HF. 2014. Kerugian Keuangan Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi, Suatu Pendekatan Hukum Progresif, Thafa Media, Yogyakarta.

Marzuki, PM. 2016. Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta.

Minarno, NB. 2009. Penyalahgunaan Wewenang dan Tindak Pidana Korupsi Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah, Laksbang Mediatama, Surabaya.

Mulyadi, L. 2007. Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Alumni, Bandung.

Nelson, FM. 2020. Plea Bargaining & Deferred Prosecution Agreement Dalam Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika.

Panjaitan, S. 2018. Auditor Dalam Perkara Korupsi di Indonesia Berbasis Nilai Keadilan, Deepublish, Yogyakarta.

Rajagukguk, E. 2006. Pengertian Keuangan Negara dan Kerugian Negara, Kerta Kerja, Komisi Hukum Nasional (KHN) RI, Jakarta 26 Juli.

Schaffmeister, KN; & Sitorus, EPH., 2007. Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Soekanto, S; & Mamudji, S. 2015. Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), Raja Grafindo, Jakarta.

Sutedi, A. 2018. Hukum Keuangan Negara, Sinar Grafika, Jakarta.

Toegarisman, M.A. 2018. Pemberantasan Korupsi Dalam Proyek Strategi Nasional, Kompas, Jakarta.

Tuanakotta, T.M. 2018. Menghitung Kerugian Keuangan Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi, Edisi 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Witanto, D.Y. 2012. Dimensi Kerugian Negara Dalam Hubungan Kontraktual (Suatu Tinjauan Terhadap resiko Kontrak Dalam Proyek Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah, CV. Mandar Maju, Bandung.

Journal:

Fathurohman; & Kurniawan, N. 2017. Pergeseran Delik Korupsi Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 25/PUU-XIV/2016, Jurnal Konstitusi, Volume 14 Nomor 2017.

Supriyanto, S.; & Hartiningsih. 2017. Redefinisi Unsur “yang dapat Merugikan Keuangan (Perekonomian) Negara dalam Tindak Pidana Korupsi, Jurnal Amanna Gappa, Vol.25 No.2, Bulan September 2017, Universitas Hasanuddin, Makasar.

Website:

http://www.transparancy.org, diakses tanggal 10 April 2019.

http://www.bpk.go.id/asset/file/ihps/2018/I/ihps_2018_1538459607,pdf.,diakses tanggal 10 April 2020.

http://mahkamahagung.go.id., diakses tanggal 12 April 2020.




DOI: https://doi.org/10.15408/jch.v8i3.18295 Abstract - 0 PDF - 0

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Free counters!

View My Stats

Creative Commons License 
licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International