Manajemen Dakwah Menurut Perspektif Al-Qur’an

Jundah Sulaiman, Mansya Aji Putra

Abstract


Islam adalah agama dakwah yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan  As- Sunnah, karena Al-Qur’an merupakan mukjizat yang nyata adanya dan AsSunnah merupakan bentuk wujud apa yang ada pada kekasih-Nya. Kewajiban dakwah yakni menyeru dan menyampaikan apa yang menjadi perintah Allah dan meninggalkan hal- hal yang sudah menjadi ketetapan dalam larangan Allah kepada masyarakat. Tentu dalam menyeru dan menyampaikan pesan-pesan dakwah harus dengan metode dan tata cara yang baik dan benar sesuai dengan apa yang menjadi tuntunan Al-Qur’an agar pesan-pesan dakwah tersebut dapat lebih mudah diterima oleh masyarakat dan agar tercapainya suatu tujuan, yaitu mendapatkan ridha Allah Swt. Kontekstualisasi dan relevansi ayat dakwah menjadi urgent dan vital ketika menyentuh pada permasalahan era globalisasi, yakni adanya fakta pengaburan identitas keberagamaan dan fakta radikalisme agama, dakwah memerlukan kontekstualisasi baru, seperti halnya dengan metodologi tematik, yang kemudian berfungsi untuk menyusun makna-nya secara komprehensif sesuai dengan yang terdapat dalamAl-Qur’an.

 

Islam is a religion of da'wah that holding to the Qur'an and Sunnah, because the Qur'an is a real miracle of existence and the Sunnah is a manifestation of what is in His lover. The obligation of da'wah is to call and convey what is the command of Allah and leave things that have become provisions in Allah's prohibition to the community. Certainly in calling for and conveying da'wah messages must be with methods and procedures that are good and correct in accordance with what has become the  guidance of the Qur'an so that the da'wah messages can be more easily accepted by the community and to achieve a goal, which is to get blessing of Allah Swt. Contextualization and relevance of da'wah verses become urgent and vital when  touching on the problems of the globalization era, namely the fact that there is a blurring of religious identity and the fact of religious radicalism, da'wah requires new contextualization, in the case with thematic methodology, which then functions to compile comprehensively in accordance with contained in theQur'an.


Full Text:

PDF

References


Kementerian Agama RI. Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Bogor: Lembaga Percetakan Al-Qur’an. 2010.

Quthb, Sayyid. Fiqih Dakwah: Maudhu‟at fi Ad-Da‟wah wa Al-Harakah, Beirut- Lebanon: Mu’assasah Ar-Risalah, 1970. Diterjemahkan oleh Suwardi Effendi dan Ah. Rosyid Asyofi Jakarta: Pustaka Amani, Cet. Ke-1. 1986.

Munir, Muhammad. Metode Dakwah, Jakarta: Kencana, Edisi Revisi, Cet. Ke-2. 2006. Tasmara, Toto. Komunikasi Dakwah, Jakarta: Gaya Media Pratama, Cet. Ke-1. 1997.

Syihata, Abdullah. Al-Da‟watu Al-Islamiyah Wa Al-I‟lami Al-Dini, 1978. Diterjemahkan oleh Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI sebagai Proyek Pembinaan Sarana dan Prasarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta, (Jakarta, 1986.)

Ma’luf,Lois.MunjidfiAl-LughahWaA‟lam, Beirut: Dar Fikr. 1986.

Hasanuddin. Hukum Dakwah, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,1996.

Hamid Al-Bilali, Abdul. Fiqih Ad-Dakwah fi Ingkar Al-Mungkar Kuwait: Dar Ad- Dakwah. 1989.

Mandzur, Ibnu. Lisan Al-Arab, Jilid VI, Beirut: Dar Fikr. 1990.

Amin, Masyhur. Metode Dakwah Islam dan Beberapa Keputusan

Pemerintah tentang Aktivitas Keagamaan. Yogyakarta: Sumbangsih. 1980.

Saputra, Wahidin. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta, Rajawali Pers, Cet. Ke1.




DOI: https://doi.org/10.15408/jmd.v8i1.19926 Abstract - 0 PDF - 0

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Jundah Sulaiman, Mansya Aji Putra