AWALAN ME-/MEN-/MENG- + S- ATAU MENG-?

Djoko Kentjono

Abstract


Abstract: Description of morphological processes involving the verbal prefix me-/meN- in the Indonesian grammars have a long story. Traditionally, me- was described as changing in its form into meng- when followed by a base which begins with vowels, k, g, h, and kh; into mem- when folllowed by t and d; into men(y) when followed by s, sy, c, and j; remaining as me- when followed by m, n, ny, ng, l, r, w, and y. In the process, the initial p, t, l, and s are lost and the fate of the bases is no longer discussed. In this presentation it will be argued that not only prefixes but bases also entitled to more than one allomorph, changing the initial p, t, k, and s of the base into their respective homorganic nasals. This argument is supported by the occurrence of allomorphs like –masang, -nulis, -nguras, dan –nyapu in reduplication. Hypenation in written words like me-masang, me-nulis, me-nguras, and me-nyapu are also proofs of the allomorphic existence.


Abstrak: Deskripsi proses morfologi yang bersangkutan dengan awalan verba me-/meN- dalam tata bahasa Indonesia mempunyai sejarah yang cukup panjang. Secara tradisional, me- diperikan sebagai awalan yang berubah bentuknya menjadi meng- ketika diikuti bentuk dasar yang berawal vokal, k, g, h, dan kh; menjadi mem- jika diikuti p, b, dan f; menjadi men- jika diikuti t dan d, menjadi men(y) ketika diikuti s, sy, dan j; tetap sebagai me- ketika diikuti m, n, ny, ng, l, r, w, dan y. Dalam proses itu p, t, k, dan s awal hilang atau luluh dan nasib kata/bentuk dasar tidak dihiraukan lagi. Dalam paparan di bawah ini diajukan argumen bahwa tidak hanya awalan tetapi juga kata/bentuk dasar mempunyai kemungkinan untuk memiliki lebih dari satu kata/bentuk dasar menjadi sengauan homorgan masing-masing. Argumen ini ditopang, misalnya, oleh kahadiran alomorf atau bentuk seperti –masang, -nulis, -nguras, dan nyapu dalam kata ulang. Penggunaan tanda hubung (-) dalam kata tertulis pada akhir baris seperti me-masang, me-nulis, me-nguras, dan me-nyapu juga menjadi bukti adanya alomorf-alomorf tersebut.

 

Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/dialektika.v4i2.7681.


Keywords


morpheme; allomorph; prefix; lost; morphophonemics; phoneme; initial; reduplication; vowel; morfem; alomorf; awalan; luluh; morfofonemik; fonem; awal; perulangan; vokal

References


Ahmad, S. Sari Paramasastera Indonesia. Medan: Saiful. 1958

Alisjahbana, S. T. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia Djilid II. Djakarta: Pustaka Rakjat. 1963.

Alwi, H., dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Jakarta: Balai Pustaka. 1998.

Arifin, E. Zaenal dan Junaiah H.M. Morfologi, Bentuk, Makna dan Fungsi. Jakarta: Kompas Gramedia. 2009.

Chaer, A. Penggunaan Imbuhan Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah. 1989.

Chaer, A. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta. 2008.

Hadidjaja, T. Tatabahasa Indonesia. Djakarta: Kirana. 1963.

Kentjono, D. “Me-nari atau Men-ari?”. Dewan Bahasa XIII:2. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. 1969.

Keraf , G. Tatabahasa Indonesia untuk Sekolah Landjutan Atas. Ende: Nusa Indah. 1970

Mulyono, I. Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi: Teori dan Sejumput Problematik Terapannya. Bandung: Yrama Widya. 2013.

Muslich, M. Tatabentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara. 2008.

Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001.

Pike, Kenneth L. Phonemics: A Technique for Reducing Languages to Writing. Ann Arbor: University of Michigan Press. 1947.

Pullum, G. and William, A. L. Phonetics Symbol Guide (Second Edition), Chicago: University of Chicago Press. 1996.

Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (Edisi IV). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2008.

Ramlan, M. Ilmu Bahasa Indonesia: Morfologi. Yogyakarta: U.P Karyono. 1967.

Robson, S. Welcome to Indonesian: A Beginner’s Survey of the Language, Boston: Turtle Publishing. 2004.

Safioedin, A. Himpunan Tatabahasa Indonesia (untuk Sekolah Landjutan). Bandung: Peladjar. 1983

Samsuri. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga. 1981.

Slametmuljana. Kaidah Bahasa Indonesia II, Djakarta: Djambatan. 1957.

Sneddon, James Neil dkk. Indonesian Reference Grammar. Crows Nest NSW: Allen & Unwin. 2010.

Sutarna dalam Sutarna dkk. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka. 2007

Zain, S. M. Djalan Bahasa Indonesia. Djakarta: Grafica. 1958.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License.

Dialektika : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, P-ISSN : 2407-506X E-ISSN : 2502-5201

Indexing by:

DOAJ CrossRef OCLC WorldCat Google Scholar BASE-Search IPI Portal Garuda UI Factor MoraRef http://sinta1.ristekdikti.go.id/images/sinta_logo.png

 

 

Web
Analytics Made Easy - StatCounter View My Stats