Revisiting the Role of Women as Witnesses in Fiqh Justice

Dahwadin Dahwadin, Syaik Abdillah, Sasa Sunarsa, Muhamad Dani Somantri, Enceng Iip Syaripudin, Hapsah Fauziah

Abstract


This paper discusses the role of women as witnesses in a court. This is one of the debatable issues in Islamic law considering the provision stating that the value of two women’s testimony is equal to one man’s testimony. Based on a more comprehensive discussion and by revisiting the Islamic resources on this issue, this paper concludes that the provision in the hadith, historically, regards heavily on women’s capability and readiness to perform their duties as witnesses. It can be seen in the case of qadzaf where women can be witnesses for themselves (by stating four oaths in the name of Allah). Therefore, in the current development, women’s role as witnesses needs to be reconsidered so that women can appear in the judiciary to play a role in supporting justice.

 

Kesaksian pada intinya menuntut untuk menemukan dan membuktikan kebenaran terhadap masalah perdata dan pidana.  Untuk menjadi saksi,  ada beberapa kriteria khusus dalam memberikan kesaksian. Dalam Islam, hal-hal yang membutuhkan kesaksian seperti itu adalah pernikahan dan perceraian, hudud (perzinahan dan qadzaf). Mereka tidak mengizinkan perempuan menjadi saksi dalam masalah-masalah spesifik yang membutuhkan kesaksian. Salah satu daerah yang tidak memungkinkan perempuan untuk menyaksikan adalah wilayah hudud dan qisha. Hal yang menarik yang harus dicermati dalam ketentuan fikih adalah posisi wanita dalam memberikan kesaksian. Dalam Al-Qur'an tidak memungkinkan perempuan menjadi saksi di pengadilan, tetapi hanya dalam kasus perdata (transaksi keuangan), dan itupun bobot dua wanita sama dengan satu pria. Ketika kita merujuk pada makna teks, maka jelas siapa pun dia (wanita) dan kualifikasinya, bagaimanapun, tidak diperbolehkan untuk melayani sebagai saksi dalam kasus pidana. Meskipun secara historis telah terbukti banyak wanita cerdas, memiliki kedewasaan emosional, kredibilitas, dan kemampuan  yang memenuhi syarat untuk tampil sebagai saksi dalam kasus-kasus, baik sipil maupun pidana. Dalam kajian fikih, yang populer, masalah kesaksian seorang wanita dinilai oleh sebagian orang sebagai salah satu perbedaan yang mensubordinasi perempuan. Sudah diketahui secara umum bahwa dalam Islam, antara pria dan wanita sama-sama bisa bersaksi. Kapasitas perempuan untuk menjadi saksi disebutkan dalam Al-Qur'an hanya dalam kasus perdata (yang bekenaan dengan hutang, jual beli, dan sebagainya). Jenis penelitian termakna dalam analisis ini menggunakan literatur penelitian (library research), yaitu untuk melihat bagaimana pandangan kesaksian perempuan dalam Islam melalui pendekatan analitik terhadap ketentuan dalam fikih keadilan yang kemudian ditinjau melalui studi ilmiah dengan berbagai corak diskusi dalam referensi lain yang mendukung analisis dalam tulisan ini.

 


Keywords


Testament; Women; Fiqh

References


Abu jaib, Sa'di Al-Qamus al-Fiqhi, (Damascus: Dar al-Fikr, 1988).

Ahmad, Salbiah, Evidence of Woman (as Witnesses), Diyat And Apostasy, the Rose Ismail (ed.), Hudud in Malaysia The Issues at Stake, SIS.

Al-Bajuri, Ibrahim al-Bajuri Hassiyat, vol 2.

Al-Na'im, Abdullah Muhammad, Deconstruction Shariah, trans. Suaedy and Amiruddin Ahmad al-Rany, (Yogyakarta: LKIS, 2001).

Al-Shafi'i, al-Umm, (Cairo: Maktabat al-Kulliyat al-Azhariyyah, 1961

Al-Zuhaili, Wahbah, Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, vol. 7.

Majah, Ibn, Sunan, (Riyadh: Maktabat al-tarbiyat al-'Arabiyah, Vol 1).

Mandhur, Ibn, Lisan al-'Arab, (Beirut: 1990, Vol 3).

Rashid Rida, Muhammad, Tafsir Al-Manar, (Beirut: Dar al-Fikr, vol. III).

Rushd, Ibn, Bidayat al-Mujtahid, Dar al-Fikr, nd, vol. 2.

Sabiq, Sayyid, Fiq al-Sunnah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1992, Vol. 2)

Syaltut, Mahmud al-Islam 'Aqeedah wa Shariah, Dar al-Qalam, 1966.

Syuja ', Abu, Taqrib, Indonesia, Dar al-life, tt

Umar, Nasaruddin, interpretation of Scripture Gender Perspective: Perspective of the Qur'an, (Seminar Papers Pre NU in Garut, 17 November 1999.

Organizers Foundation and Pentafsir Translations of the Qur'an, Qur'an and Terjemahnya, (Jakarta: 1971).


Full Text: PDF

DOI: 10.15408/ajis.v19i1.11768

Refbacks

  • There are currently no refbacks.